A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Only variable references should be returned by reference

Filename: core/Common.php

Line Number: 257

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: session_start(): Cannot send session cookie - headers already sent by (output started at /home/sumselor/public_html/fdas/system/core/Exceptions.php:185)

Filename: controllers/web.php

Line Number: 14

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: session_start(): Cannot send session cache limiter - headers already sent (output started at /home/sumselor/public_html/fdas/system/core/Exceptions.php:185)

Filename: controllers/web.php

Line Number: 14

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/sumselor/public_html/fdas/system/core/Exceptions.php:185)

Filename: controllers/web.php

Line Number: 56

FDAS | Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Sumatera Selatan
Menu Sidebar
Login Administrator
Kategori Artikel
Download Center
Link Terkait












Statistik Pengunjung
  • Dikunjungi oleh : 56024 user
  • IP address : 54.198.247.44
  • OS : Unknown Platform
  • Browser :
  • Kantor Pusat Administrasi

    Forum DAS Sumatera Selatan

    Alamat :

    Kantor Sekretariat Bersama Forum DAS Sumsel

    Jl. Kol. H. Burlian Km 6,5 Punti Kayu Palembang

    Telp: 0711-5614522

    email : fdas.sumsel@gmail.com

    Dengan Mengembalikan Fungsi Lahan dan Sungai Bencana Banjir Dapat Teratasi
    Tanggal 27-01-2014 08:16:36 | Kategori Kliping koran | Oleh edward saleh
    Share this article on

    Sumber : http://www.menlh.go.id/dengan-mengembalikan-fungsi-lahan-dan-sungai-bencana-banjir-dapat-teratasi/

    KLH, Puncak Bogor  – 20 Januari 2014. Mencari kesalahan ditengah kesulitan orang banyak memang sangat mudah. Tampaknya seperti itulah yang mengemuka belakangan ini. Semua orang berusaha untuk saling menyalahkan  jika sudah bicara mengenai dampak kerusakan ekosistem.  Banjir adalah salah satu dampak kerusakan tersebut.

    Banjir Jakarta adalah pelajaran bersama akan pentingnya kerja nyata lintas Kementerian dan Pemerintah Daerah serta seluruh komponen masyarakat yang mau dan memang mempunyai  rasa dan tanggung jawab bersama akan kerusakan tersebut.

    ”Jangan, mulai terjadi banjir baru ada rapat-rapat. Harus diupayakan betul pencegahannya, kita harus mengembalikan fungsi lahan dan sungai. Kerusakan ekologis ini harus diperbaiki atau setiap tahun akan terus terjadi banjir,” hal ini di ungkapkan oleh Menteri Lingkungan Hidup (MenLH), Balthasar Kambuaya, saat meninjau alih fungsi kawasan lindung di Desa Tugu Utara, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.  Senin (20/1)

    Disinilah menjadi  salah satu lokasi pembongkaran vila-vila ilegal di kawasan Puncak. Sampai saat ini, sisa-sisa bongkaran masih belum dibersihkan.  Balthasar melanjutkan, banjir di Jakarta menunjukkan daya dukung dan daya tampung lingkungan, mulai dari hulu, tengah, hingga hilir, telah rusak. Beberapa yang disoroti adalah penggunaan kawasan lindung sebagai permukiman/vila dan pemanfaatan kanan-kiri sungai sebagai permukiman.

    Kegiatan aksi nyata ini dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bogor yang terus melanjutkan pembongkaran vila-vila ilegal di Puncak. Lahan-lahan yang telah dibongkar itu akan ditanami dengan tanaman keras dan buah-buahan.

    Sedangkan ,  ”Bupati Bogor juga memberi tahu bahwa mulai Februari (penertiban) dilanjutkan lagi. Soal kendala, memang ada macam-macam kepentingan. Nanti saya yang bicara dengan Panglima TNI dan Kepala Polri,”  kata  MenLH , Balthasar Kambuaya. Menurut  Ronny Sukmana, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor. Hal ini merupakan kelanjutan dari  program yang dilakukan pada tahun 2013. Dan tentu perlu dukungan semua pihak.

    Ia mengatakan, pembongkaran dilakukan karena lahan dibebani bangunan yang melebihi aturan atau menempati lahan secara ilegal. Lahan-lahan yang ditertibkan ini akan ditanami tanaman buah serta dibuatkan biopori dan sumur resapan.

    Sementara itu, Deputi III Menteri Lingkungan Hidup Arief  Yuwono mengatakan,  Kerusakan ekologis sungai Ciliwung perlu diatasi dengan pengendalian kerusakan ekosistem, pencemaran lingkungan, tata ruang, peran serta masyarakat dan penegakan hukum secara terpadu dan berkelanjutan

    Perbaikan DAS Ciliwung  perlu waktu selama 10 Tahun. Oleh sebab itu perlu dukungan dan komitmen bersama,  “  Ujar Arief Yuwono. (ry/In. Asdep Komunikasi- Berbagai sumber)

    - See more at: http://www.menlh.go.id/dengan-mengembalikan-fungsi-lahan-dan-sungai-bencana-banjir-dapat-teratasi/#sthash.hgtb75dq.dpuf

     

    KLH, Puncak Bogor  – 20 Januari 2014. Mencari kesalahan ditengah kesulitan orang banyak memang sangat mudah. Tampaknya seperti itulah yang mengemuka belakangan ini. Semua orang berusaha untuk saling menyalahkan  jika sudah bicara mengenai dampak kerusakan ekosistem.  Banjir adalah salah satu dampak kerusakan tersebut.

    Banjir Jakarta adalah pelajaran bersama akan pentingnya kerja nyata lintas Kementerian dan Pemerintah Daerah serta seluruh komponen masyarakat yang mau dan memang mempunyai  rasa dan tanggung jawab bersama akan kerusakan tersebut.

    ”Jangan, mulai terjadi banjir baru ada rapat-rapat. Harus diupayakan betul pencegahannya, kita harus mengembalikan fungsi lahan dan sungai. Kerusakan ekologis ini harus diperbaiki atau setiap tahun akan terus terjadi banjir,” hal ini di ungkapkan oleh Menteri Lingkungan Hidup (MenLH), Balthasar Kambuaya, saat meninjau alih fungsi kawasan lindung di Desa Tugu Utara, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.  Senin (20/1).

    Disinilah menjadi  salah satu lokasi pembongkaran vila-vila ilegal di kawasan Puncak. Sampai saat ini, sisa-sisa bongkaran masih belum dibersihkan.  Balthasar melanjutkan, banjir di Jakarta menunjukkan daya dukung dan daya tampung lingkungan, mulai dari hulu, tengah, hingga hilir, telah rusak. Beberapa yang disoroti adalah penggunaan kawasan lindung sebagai permukiman/vila dan pemanfaatan kanan-kiri sungai sebagai permukiman.

    Kegiatan aksi nyata ini dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bogor yang terus melanjutkan pembongkaran vila-vila ilegal di Puncak. Lahan-lahan yang telah dibongkar itu akan ditanami dengan tanaman keras dan buah-buahan.

    Sedangkan ,  ”Bupati Bogor juga memberi tahu bahwa mulai Februari (penertiban) dilanjutkan lagi. Soal kendala, memang ada macam-macam kepentingan. Nanti saya yang bicara dengan Panglima TNI dan Kepala Polri,”  kata  MenLH , Balthasar Kambuaya. Menurut  Ronny Sukmana, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor. Hal ini merupakan kelanjutan dari  program yang dilakukan pada tahun 2013. Dan tentu perlu dukungan semua pihak.

    Ia mengatakan, pembongkaran dilakukan karena lahan dibebani bangunan yang melebihi aturan atau menempati lahan secara ilegal. Lahan-lahan yang ditertibkan ini akan ditanami tanaman buah serta dibuatkan biopori dan sumur resapan.

    Sementara itu, Deputi III Menteri Lingkungan Hidup Arief  Yuwono mengatakan,  Kerusakan ekologis sungai Ciliwung perlu diatasi dengan pengendalian kerusakan ekosistem, pencemaran lingkungan, tata ruang, peran serta masyarakat dan penegakan hukum secara terpadu dan berkelanjutan

    Perbaikan DAS Ciliwung  perlu waktu selama 10 Tahun. Oleh sebab itu perlu dukungan dan komitmen bersama,  “  Ujar Arief Yuwono. (ry/In. Asdep Komunikasi- Berbagai sumber)

    - See more at: http://www.menlh.go.id/dengan-mengembalikan-fungsi-lahan-dan-sungai-bencana-banjir-dapat-teratasi/#sthash.hgtb75dq.dpuf

    KLH, Puncak Bogor  – 20 Januari 2014. Mencari kesalahan ditengah kesulitan orang banyak memang sangat mudah. Tampaknya seperti itulah yang mengemuka belakangan ini. Semua orang berusaha untuk saling menyalahkan  jika sudah bicara mengenai dampak kerusakan ekosistem.  Banjir adalah salah satu dampak kerusakan tersebut.

    Banjir Jakarta adalah pelajaran bersama akan pentingnya kerja nyata lintas Kementerian dan Pemerintah Daerah serta seluruh komponen masyarakat yang mau dan memang mempunyai  rasa dan tanggung jawab bersama akan kerusakan tersebut.

    ”Jangan, mulai terjadi banjir baru ada rapat-rapat. Harus diupayakan betul pencegahannya, kita harus mengembalikan fungsi lahan dan sungai. Kerusakan ekologis ini harus diperbaiki atau setiap tahun akan terus terjadi banjir,” hal ini di ungkapkan oleh Menteri Lingkungan Hidup (MenLH), Balthasar Kambuaya, saat meninjau alih fungsi kawasan lindung di Desa Tugu Utara, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.  Senin (20/1).

    Disinilah menjadi  salah satu lokasi pembongkaran vila-vila ilegal di kawasan Puncak. Sampai saat ini, sisa-sisa bongkaran masih belum dibersihkan.  Balthasar melanjutkan, banjir di Jakarta menunjukkan daya dukung dan daya tampung lingkungan, mulai dari hulu, tengah, hingga hilir, telah rusak. Beberapa yang disoroti adalah penggunaan kawasan lindung sebagai permukiman/vila dan pemanfaatan kanan-kiri sungai sebagai permukiman.

    Kegiatan aksi nyata ini dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bogor yang terus melanjutkan pembongkaran vila-vila ilegal di Puncak. Lahan-lahan yang telah dibongkar itu akan ditanami dengan tanaman keras dan buah-buahan.

    Sedangkan ,  ”Bupati Bogor juga memberi tahu bahwa mulai Februari (penertiban) dilanjutkan lagi. Soal kendala, memang ada macam-macam kepentingan. Nanti saya yang bicara dengan Panglima TNI dan Kepala Polri,”  kata  MenLH , Balthasar Kambuaya. Menurut  Ronny Sukmana, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor. Hal ini merupakan kelanjutan dari  program yang dilakukan pada tahun 2013. Dan tentu perlu dukungan semua pihak.

    Ia mengatakan, pembongkaran dilakukan karena lahan dibebani bangunan yang melebihi aturan atau menempati lahan secara ilegal. Lahan-lahan yang ditertibkan ini akan ditanami tanaman buah serta dibuatkan biopori dan sumur resapan.

    Sementara itu, Deputi III Menteri Lingkungan Hidup Arief  Yuwono mengatakan,  Kerusakan ekologis sungai Ciliwung perlu diatasi dengan pengendalian kerusakan ekosistem, pencemaran lingkungan, tata ruang, peran serta masyarakat dan penegakan hukum secara terpadu dan berkelanjutan

    Perbaikan DAS Ciliwung  perlu waktu selama 10 Tahun. Oleh sebab itu perlu dukungan dan komitmen bersama,  “  Ujar Arief Yuwono. (ry/In. Asdep Komunikasi- Berbagai sumber)

    - See more at: http://www.menlh.go.id/dengan-mengembalikan-fungsi-lahan-dan-sungai-bencana-banjir-dapat-teratasi/#sthash.hgtb75dq.dpuf

    KLH, Puncak Bogor  – 20 Januari 2014. Mencari kesalahan ditengah kesulitan orang banyak memang sangat mudah. Tampaknya seperti itulah yang mengemuka belakangan ini. Semua orang berusaha untuk saling menyalahkan  jika sudah bicara mengenai dampak kerusakan ekosistem.  Banjir adalah salah satu dampak kerusakan tersebut.

    Banjir Jakarta adalah pelajaran bersama akan pentingnya kerja nyata lintas Kementerian dan Pemerintah Daerah serta seluruh komponen masyarakat yang mau dan memang mempunyai  rasa dan tanggung jawab bersama akan kerusakan tersebut.

    ”Jangan, mulai terjadi banjir baru ada rapat-rapat. Harus diupayakan betul pencegahannya, kita harus mengembalikan fungsi lahan dan sungai. Kerusakan ekologis ini harus diperbaiki atau setiap tahun akan terus terjadi banjir,” hal ini di ungkapkan oleh Menteri Lingkungan Hidup (MenLH), Balthasar Kambuaya, saat meninjau alih fungsi kawasan lindung di Desa Tugu Utara, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.  Senin (20/1)

    - See more at: http://www.menlh.go.id/dengan-mengembalikan-fungsi-lahan-dan-sungai-bencana-banjir-dapat-teratasi/#sthash.hgtb75dq.dpuf

    Baca sumber asli

    Artikel Terbaru

    Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia

    Tanggal 20-08-2016 15:03:39 | Kategori Berita | Oleh Midranesiah Hamid

    Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup (5 Juni) dan Hari Penanggulangan Degradasi Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia (17 Juni), Forum Komunikasi Pengelolaan Daerah Ali.......

    500 Ribu Hektar Lahan Sumsel Kritis

    Tanggal 20-08-2016 15:03:39 | Kategori Berita | Oleh Midranesiah Hamid

    Palembang-Sedikitnya 500 ribu hektar lahan kritis di Sumsel secara bertahap mengalami kekeringan. Hal ini dikarenakan penurunan degradasi lahan di Sumsel belum seimbang dengan reha.......

    Rehabilitasi Hutan Mangrove Terbatas

    Tanggal 20-04-2016 09:54:41 | Kategori Berita | Oleh Midranesiah Hamid

    Areal konservasi hutan mangrove di Sumsel yang direhabilitasi, tidak sebanding dengan jumlah kerusakan yang terjadi. Dalam setahun, hanya 2.000 hektare yang direhabilitasi, lantara.......

    Pemprov Minta Aliran Sungai Diperbaiki

    Tanggal 19-04-2016 13:31:13 | Kategori Berita | Oleh Midranesiah Hamid

    PALEMBANG- Pemerintah Provinsi Sumatera selatan melalui Dinas kehutana Sigit Wibowo melantik Pengurus Forum Daerah aliran Sungai (DAS) Sumsel Periode 2015-2020 di hotel Grand Zury .......

    Copyright © 2013 FDAS | Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

    Provinsi Sumatera Selatan

    Created by AFSHI