A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Only variable references should be returned by reference

Filename: core/Common.php

Line Number: 257

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: session_start(): Cannot send session cookie - headers already sent by (output started at /home/sumselor/public_html/fdas/system/core/Exceptions.php:185)

Filename: controllers/web.php

Line Number: 14

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: session_start(): Cannot send session cache limiter - headers already sent (output started at /home/sumselor/public_html/fdas/system/core/Exceptions.php:185)

Filename: controllers/web.php

Line Number: 14

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/sumselor/public_html/fdas/system/core/Exceptions.php:185)

Filename: controllers/web.php

Line Number: 56

FDAS | Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Sumatera Selatan
Menu Sidebar
Login Administrator
Kategori Artikel
Download Center
Link Terkait












Statistik Pengunjung
  • Dikunjungi oleh : 50019 user
  • IP address : 54.166.189.88
  • OS : Unknown Platform
  • Browser :
  • Kantor Pusat Administrasi

    Forum DAS Sumatera Selatan

    Alamat :

    Kantor Sekretariat Bersama Forum DAS Sumsel

    Jl. Kol. H. Burlian Km 6,5 Punti Kayu Palembang

    Telp: 0711-5614522

    email : fdas.sumsel@gmail.com

    Menengok Kembali Potensi Sungai Musi
    Tanggal 05-01-2014 09:59:00 | Kategori Sungai Musi | Oleh edward saleh
    Share this article on

    KOMPAS/IRENE SARWINDANINGRUM

    Peserta Musi Triboatton 2013 menyusuri Musi dengan perahu tradisional jukung dari Muara Beliti di Kabupaten Musi Rawas hingga Sekayu di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Lebih dari 100 peserta Musi Triboatton yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyusuri Sungai Musi sepanjang 500 kilometer dengan menggunakan berbagai moda transportasi sungai.

    Sumber : http://travel.kompas.com/read/2014/01/04/1607586/Menengok.Kembali.Potensi.Sungai.Musi

    Travel / Travel Story

    Menengok Kembali Potensi Sungai Musi

    Sabtu, 4 Januari 2014 | 16:07 WIB
    MUSI Triboatton 2013 membawa satu pesan, Sungai Musi yang pernah menjadi nadi peradaban Sumatera Selatan itu kian tercabik oleh kerusakan lingkungan. Dari hulu ke hilir, pembukaan lahan, sampah, dan orang-orang melupakannya. Ini terjadi ketika begitu banyak orang bergantung dan berharap padanya.

    Musi Triboatton 2013 yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 16-22 November membawa sekitar 150 peserta dalam dan luar negeri serta serombongan wartawan menyusuri sungai bersejarah itu dari hulu ke hilir. Sekitar 500 kilometer ditempuh melintasi lima kabupaten dan kota di Sumatera Selatan (Sumsel), Empat Lawang, Musi Rawas, Musi Banyuasin, Banyuasin, dan berakhir di Kota Palembang.

    Di tengah eksotika kehidupan dan kemeriahan pesta-pesta rakyat yang digelar untuk menyambut Musi Triboatton, kerusakan lingkungan sungai terpanjang di Sumatera itu terlihat di sana-sini.

    Perjalanan dimulai dari hulu Musi di Desa Tanjung Raya, Kabupaten Empat Lawang, yang terletak di lembah Bukit Barisan. Dari sana, kerusakan lingkungan sudah mulai tampak. Lereng-lereng bukit telah banyak beralih fungsi menjadi hamparan perkebunan kelapa sawit.

    Warga Tanjung Raya, Hasan Basri (57), menuturkan, pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit marak di kawasan itu selama dua tahun terakhir. Sebagian besar perkebunan milik perusahaan asal Malaysia.

    Warga menjual lahan dengan murah. Hasan, misalnya, baru saja menjual 1 hektar lahannya seharga Rp 14 juta saja. Dulunya lahan yang ia warisi turun-temurun tak jauh dari tepian Musi itu ia biarkan liar serupa hutan. Di sana, ia hanya menanam lada yang dirambatkan pada pepohonan yang tumbuh liar. Sesekali ia juga mengambil madu hutan dari sana.

    Hasan mengaku terpaksa menjual lahan karena terdesak biaya sekolah anak. Penjualan lahan ini juga banyak dilakukan warga desa sekitar lainnya dengan alasan sama.

    ”Ada juga warga yang sebenarnya tak mau jual. Namun, perusahaan menggunakan warga sini, tetangga, bahkan anaknya sendiri untuk membujuk sehingga akhirnya lahan terjual juga,” ujar bapak dua anak yang kini hanya menggantungkan nafkah pada warung kopinya itu.
     
    KOMPAS/IRENE SARWINDANINGRUM
    Etape II Musi Triboatton 2013 dimulai dari Jembatan Kuning di Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan, Selasa (19/11/2013). Etape II ini diawali dengan menyusuri Musi dengan perahu cepat. Ajang ini jadi promosi wisata petualangan dan budaya sungai.

     

    Kisah Hasan dan lahan di Tanjung Raya hanya satu kisah dari banyaknya pembukaan lahan di daerah aliran sungai (DAS) Musi. Berdasarkan data Balai Pengelolaan DAS Sumsel, sekitar 1,1 juta hektar kawasan DAS di Sumsel rusak. Penyebabnya adalah masifnya alih fungsi lahan dari tutupan hutan menjadi perumahan atau perkebunan. Pembukaan lahan di DAS menyebabkan erosi yang berakibat pada pendangkalan.

    Kepala Divisi Pengorganisasian dan Pendidikan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumsel Hadi Jatmiko mengatakan, selain meningkatkan laju erosi, perkebunan sawit di sekitar sungai juga rentan mencemari. Pupuk dan pembasmi hama di perkebunan sawit mudah mengalir ke sungai.

    Di Kabupaten Musi Banyuasin, sejumlah industri pengolahan kelapa sawit juga dibangun di tepi sungai. Bupati Musi Banyuasin Pahri Azhari mengatakan, ancaman terhadap Musi di daerahnya terutama adalah limbah pengolahan pabrik-pabrik itu. ”Kami tegaskan ada sanksi keras jika ditemukan industri buang limbah langsung ke Musi,” ucapnya.

    Menyangga kehidupan

    Semakin ke hilir, semakin banyak sampah ditemui. Sampah plastik dan limbah rumah tangga bercampur dengan bangkai anjing dan tikus. Sungguh tak sedap dipandang. Banyaknya sampah menunjukkan bagaimana Musi dimanfaatkan sebagai tempat sampah raksasa.

    Padahal, Musi masih menyangga kehidupan ribuan orang yang tinggal di pesisirnya. Sepanjang perjalanan, terlihat ibu-ibu berkain yang mandi dan mencuci, para nelayan menebar jala mencari ikan dengan ketek (sampan kayu), serta perahu-perahu tradisional hilir mudik mengangkut penumpang dan beragam hasil bumi. Musi juga masih menjadi sumber air utama sejumlah kota dan kabupaten di Sumsel.

    Seiring pembangunan jalan darat di Sumsel, Sungai Musi kian ditinggalkan. Kehidupan kian berorientasi ke darat. Rumah-rumah yang dulu dibangun menghadap Musi kini semakin banyak yang membelakanginya. Berada di belakang rumah berarti menjadi tempat sampah. Rumah dan bangunan juga terlihat banyak dibangun tepat di bibir Musi. Padahal, guna menjaga kelestarian sungai, bangunan harus berjarak 50-100 meter dari bibir sungai.

    Bagaimanapun, majunya pembangunan infrastruktur Sumsel bukan penyebab kerusakan Musi. Sejauh ini tak terlihat adanya upaya tegas guna menjaga kelestarian sungai bersejarah itu.

    Potensi wisata

    Kerusakan lingkungan Sungai Musi menjadi keprihatinan Musi Triboatton. Kepala Subdirektorat Promosi Wilayah Sumatera Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Raseno Arya mengatakan, Musi Triboatton digelar agar orang-orang kembali menengok kepada Musi. Menengok juga mencakup menjaga kelestarian Musi serta menggali kembali sejarah dan kultur sungai.
     

    KOMPAS/AGUS SUSANTO
    Warga menikmati senja dengan makan di perahu terapung di sekitar jembatan Ampera, Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (18/4/2013). Sejak zaman Kerajaan Sriwijaya hingga sekarang, sungai dengan panjang 750 km ini terkenal sebagai sarana transportasi utama bagi masyarakat sekitar.

    Melestarikan lingkungan Musi menjadi salah satu syarat utama menggerakkan potensi wisata itu. ”Potensi wisata Musi sesungguhnya sangat besar, mulai dari wisata olahraga, sejarah, hingga alam. Sungai-sungai besar dunia banyak yang menjadi tujuan wisata dan menggerakkan ekonomi warga. Lihat saja Seine di Perancis dan Chao Phraya di Thailand,” katanya.

    Seperti namanya, perjalanan Musi Triboatton 2013 diselingi pertandingan olahraga sungai, yaitu arung jeram, kayak, dan perahu naga. Tahun ini, kegiatan diikuti 10 tim, di antaranya dari Malaysia dan Singapura.

    Triboatton sendiri merupakan istilah modifikasi dari triatlon yang mempertandingkan lari, renang, dan sepeda. Kata atletik dalam triatlon diganti dengan boat (perahu) dalam triboatton. Istilah ini disebut-sebut khusus dibuat untuk ajang di Sungai Musi tersebut dan bisa jadi satu-satunya yang digelar di dunia.

    Wakil Bupati Empat Lawang Syahril Hanafiah mengatakan, tanpa Musi, Empat Lawang yang terletak di perbatasan Sumsel dan Bengkulu itu tak akan dikenal di luar Sumsel.

    Antusiasme warga terhadap Musi Triboatton sangat tinggi. Musi pun kembali menjadi pusat perhatian. Meskipun sesaat, orang-orang kembali menengok kepadanya. (Irene Sarwindaningrum)

    Baca sumber asli


    Editor : I Made Asdhiana
    Sumber : KOMPAS CETAK
     
    Artikel Terbaru

    Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia

    Tanggal 20-08-2016 15:03:39 | Kategori Berita | Oleh Midranesiah Hamid

    Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup (5 Juni) dan Hari Penanggulangan Degradasi Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia (17 Juni), Forum Komunikasi Pengelolaan Daerah Ali.......

    500 Ribu Hektar Lahan Sumsel Kritis

    Tanggal 20-08-2016 15:03:39 | Kategori Berita | Oleh Midranesiah Hamid

    Palembang-Sedikitnya 500 ribu hektar lahan kritis di Sumsel secara bertahap mengalami kekeringan. Hal ini dikarenakan penurunan degradasi lahan di Sumsel belum seimbang dengan reha.......

    Rehabilitasi Hutan Mangrove Terbatas

    Tanggal 20-04-2016 09:54:41 | Kategori Berita | Oleh Midranesiah Hamid

    Areal konservasi hutan mangrove di Sumsel yang direhabilitasi, tidak sebanding dengan jumlah kerusakan yang terjadi. Dalam setahun, hanya 2.000 hektare yang direhabilitasi, lantara.......

    Pemprov Minta Aliran Sungai Diperbaiki

    Tanggal 19-04-2016 13:31:13 | Kategori Berita | Oleh Midranesiah Hamid

    PALEMBANG- Pemerintah Provinsi Sumatera selatan melalui Dinas kehutana Sigit Wibowo melantik Pengurus Forum Daerah aliran Sungai (DAS) Sumsel Periode 2015-2020 di hotel Grand Zury .......

    Copyright © 2013 FDAS | Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

    Provinsi Sumatera Selatan

    Created by AFSHI